
Ary, Manajer Kesehatan Tim 1N3B Edisi Mentawai
Yang berkisah kali ini Ary, sang manajer kesehatan yang nampak di foto berbaju merah muda. Ary akan bertutur dengan gaya bahasa sehari-hari yang ringan, lucu dan menyenangkan, khas Ary. Ia biasa menyebut dirinya dengan “gw” singkatan dari “gue”, bahasa anak muda Jakarta untuk menyebut dirinya sendiri. Bagaimana kisahnya? Silahkan menyimak ya.
***
Usianya baru 21 tahun, sangat belia bila dibandingkan dengan umur gw
tapi di usia segitu Ibu Neseko (kalau gak salah liat yah nama nya hehe) sudah memiliki lima anak….mari kita berhitung saja secara matematika, bila anak tertua ibu itu saja sudah berusia sekitar 7 tahun berarti Ibu Neseko menikah pada usia 13 tahun usia yang sangat muda sekali untuk memasuki sebuah kehidupan rumah tangga.
Ibu Neseko dengan kelima anaknya adalah salah satu dari pasien kami di tim balai pengobatan dalam rangkaian acara kegiatan sosial bersama team 1N3B di desa Madobag di kepulauan Mentawai Sumatra Barat, 21-22 Mei 2009. Catatan, di team 1N3B gw bukan dokter, juga bukan apoteker hehe :) cuma sekadar membantu-bantu saja, membantu apa yang bisa gw bantu sesekali gw juga SKSDSN (Sok Kenal Sok Deket Sok Nasehatin) sama pasien hehe…:P mencoba untuk berbaur…
Kembali ke masalah Ibu Neseko, Pernikahan dini, banyak anak menjadi sebuah kewajaran di desa Madobak ini sangat ironis ketika gw membayangkan apa yang tengah di lakukan anak-anak di daerah perkotaan (Jakarta misalnya) dengan anak-anak Madobak di usia 13 tahun atau di usia 21 tahun.
Usia 13 atau 21 tahun untuk sebagian besar orang Jakarta atau daerah perkotaan pada umumnya adalah usia dimana mereka sedang menikmati masa anak-anak dan remaja, berkumpul dengan teman-teman (ngomongin masalah mode, gosip, dan sebagainya), sekolah, kuliah, jalan-jalan dll. Sedangkan di desa Madobak wanita dengan range usia tersebut sudah disibukkan dengan urusan keluarga, memasak, mengurus anak dan suami. Yang mengejutkan adalah banyak anak menjadi satu target bagi mereka karena untuk memenuhi target jumlah penduduk guna mempercepat proses pemekaran desa (gw blom sempet cross check dengan aparat setempat, baru dapet info dari ibu2 nya aja) emangnya perempuan itu mesin pencetak anak :((( hhhhhhh………….
miris memang….

Kalau di beberapa negara yang berpenduduk minim sih nasib anak-anak yang dilahirkan terjamin karena pemerintahannya akan membayar sejumlah uang untuk ibu-ibu yang melahirkan guna membiayai hidup sang anak. Lah kalau di desa Madobak, siapa yang mau membayar ibu-ibu itu melahirkan? Kesehatan mereka saja seperti diabaikan begitu (terbukti tidak adanya puskesmas di sana dan kunjungan dokter yang hanya 2 atau 3 tahun sekali) arrraggggggggggghhhhhhhhhh…… gemes banget dech.
Permasalahan lain nya juga muncul mengenai gizi buat si anak, coba bayangkan aja, anak usia 1,5 bulan sudah dikasih makanan tambahan keladi. :( Gak heran klo anak di bawah usia-usia tersebut sudah kena cacingan :((di tambah lagi dengan masalah kebersihan… Masih banyak sebenarnya ganjalan di hati… tapi sudah dicukupkan dulu sampai disini ![]()
menurut gw, permasalahan ini timbul karena ketidakmerataan pendidikan dan pembangunan juga karena pembangunan selalu terpusat di kota… dan mungkin juga karena letak geografis dari desa Madobak yang cukup sulit terjangkau…

Namun demikian antusiasme ibu-ibu yang mengikuti penyuluhan cukup tinggi…itu terbukti bahwa mereka memiliki kesadaran untuk belajar dan tau mengenai hal-hal yangberkaitan dengan kesehatan dan lingkungan. Oh iya… sebenarnya ada hal yang menggembirakan juga dari sana, ada juga beberapa remaja putra dan putri penduduk asli Madobak yang memiliki keinginan kuat untuk tetap membangun Madobak. Remaja seperti Martha dan Christina, yang rela jauh dari rumah untuk bisa tetap bersekolah di SMU di Muara Siberut yang berjarak 4 jam perjalanan menggunakan perahu Pompong, catatan di Madobak cuma ada satu SMP saja. Selain remaja putri yang giat bersekolah, ada juga kader-kader kesehatan seperti Maria yangbersemangat sekali untuk membantu mensosialisasikan program-program kesehatan untuk ibu dan anak
Selamat berjuang yah semuanya…. ![]()
Yang kami buat disana memang masih seperti buih di lautan tapi gw berharap, apa yang telah di sampaikan oleh para dokter dalam penyuluhan kesehatan dapat sedikit membuka dan menambah pengetahuan ibu-ibu mengenai kesehatan ibu dan anak ini bukan pekerjaan instan yang dapat di lakukan dalam waktu 1 atau 2 hari, butuh kerja keras dan semangat dari kader dan ibu-ibu di Madobak. Gw melihat semangat itu pada kader-kader kesehatan di sana
Terima kasih buat para dokter dan tim 1N3B yang sudah mendedikasikan waktu dan tenaganya untuk kegiatan ini. Semoga Allah membalas semua kebaikan kalian…









Mbak Ary. Thanks sharing ceritanya. Menarik tapi sekaligus memprihatinkan. Saya kira perlu perubahan fundamental di sana untuk bisa lebih baik (makmur, sehat, berpendidikan, dll) ke depannya. Menikah muda dan program bikin anak banyak bisa jadi bumerang atau siklus kesulitan yang tidak berkesudahan. Desa memang akan mekar penduduknya dengan program tersebut tapi lebih mekar lagi permasalahannya. Tapi kita tidak perlu patah semangat dan harapan. Adanya teman2 yang berdedikasi secara sukarela seperti 1N3B sudah memberikan teladan akan hal yang lebih baik yang bisa dilakukan masyarakat desa Madobak. Ditambah dengan putra putri setempat seperti Martha, Christina dan Maria yang berpikiran dan berpandangan maju (nama mereka aja udah ngga kalah sama remaja Jakarta
serta bersemangat untuk membangun desa mereka, pasti ada jalan yang lebih baik di masa depan. Generasi muda seperti mereka lah yang perlu di berikan dukungan pendidikan dan penyuluhan yang baik. Mereka2 lah yang nantinya akan menjadi penyuluh lokal yang handal dan perintis perubahan bagi desa mereka.
Untuk tim relawan 1N3B yang sudah terjun lapangan dan memberikan waktu, pikiran, tenaga, dan kasihnya untuk penduduk desa Madobak, terima kasih atas dedikasinya dan semoga berkat Allah terus berlimpah untuk semua. Salam, Andrianto
P’ Andrianto,
yang kami lakukan tidak lah besar
tapi paling tidak kami sudah mulai melakukan nya
para donatur juga berperan dalam ini, berkat bantuan, doa dan support dari donatur dan pihak2 terkait, kegiatan ini dapat terlaksana dengan baik. Harapan kami, semoga kegiatan ini dapat menular ke komunitas lain dan menumbuhkan kesadaran bersama untuk saling berbagi :).