Salah satu kegiatan kami di Mentawai adalah menyediakan pengobatan cuma-cuma dan penyuluhan kesehatan. Untuk kegiatan ini, kami menurunkan satu tim kesehatan yang terdiri dari dua orang dokter, yaitu dr. Anto dan dr. Hendra didampingi manajer bidang kesehatan, Ary. Catatan di bawah ini adalah tulisan dr. Anto. Selamat menyimak.
***

dr. Anto dan dr. Hendra
Kemarin selama satu minggu 19-25 mei saya dapat kesempatan pergi bersama sekelompok teman dari Jakarta ke desa Madobak, Muara Siberut kepulauan Mentawai Sumatra Barat. Teman-teman dari Jakarta ingin membangun rumah baca, berbagi permainan sains, putar film Laskar Pelangi dan pengobatan dan penyuluhan untuk masyarakat di desa Madobak.

Tim Kesehatan di Atas Perahu Pong-Pong
Proses perjalanan dimulai naik pesawat ke Padang, kemudian menuju pelabuhan Bungus dengan naik feri selama 10 jam sampai pulau Sipora. Dari pulau Sipora dilanjutkan dengan speed boat selama 2,5 jam sampai ke pulau Muara Siberut. Kemudian menuju Desa Madobak ditempuh perjalanan 4 jam dengan perahu pong-pong (perahu dari kayu besar yang dibelah dan dibentuk perahu dengan tenaga penggerak berupa mesin seperti pemotong rumput dengan baling-baling yang dimodifikasi sebesar telapak tangan dewasa). Perjalanan dengan perahu pong-pong selama empat jam melewati sungai yang berliku terbentuk dari aliran air dari lautan.

Persiapan Balai Pengobatan

dr. Hendra Menyiapkan Obat-Obatan
Sampai di desa Madobak tidak ada listrik dan sinyal. Sekolah yang ada SD dan SMP, untuk SMA anak-anak desa Madobak harus ke Muara Siberut. Fasilitas kesehatan terdapat Polindes, namun sudah ditumbuhi ilalang dan tidak terpakai lagi. Tenaga kesehatan terdapat satu perawat kesehatan. Satu tenaga bidan, dan beberapa kader posyandu.
Instalasi air bersih tidak ada. Air diambil dari sungai atau hujan. Jamban tidak ada di setiap rumah. Sebagian besar penduduk tidak memiliki jamban. Di gedung SD tempat menumpang sudah terdapat jamban namun tidak terlihat tanda perawatan yang memadai. Mandi dilakukan di sungai, mencuci sikat gigi disungai. BAB dilakukan bisa di kebun atau sungai kecil belakang rumah atau aliran sungai.

Suasana Kegiatan Balai Pengobatan 1N3B
Sebagian besar orang tua tidak bisa berbahasa Indonesia atau tidak lancar. Anak yang bersekolah bisa mengerti bahasa Indonesia. Ruang kelas berupa bangunan permanen. Dengan kursi, meja dan papan tulis. Di ruang kepala sekolah sudah terdapat white board.
Sebagian besar keluarga di desa ini, memiliki anak lebih dari lima orang. Jarak kelahiran antar anak bisa 1-2 tahun. Jadi banyak sekali anak-anak di desa Madobak. Perkawinan lazim dilakukan di usia 15 tahun. Di usia 21 tahun ada yang sudah memiliki 2-3 anak. Proses persalinan ada dibantu kader ada dibantu masyarakat, pemotongan talipusat menggunakan serat bambu. Angka kematian ibu dan bayi tidak diketahui. Imunisasi dilakukan tenaga perawat, setiap 3 bulan dikatakan dibawa vaksin dari Muara Siberut. Kontrasepsi dilakukan namun terbatas pada ketersediaan pil dan obat suntik.Kesadaran kontrasepsi ibu-ibu dari hasil berbincang saat pengobatan dan penyuluhan cukup antusias.
Pekerjaan mayoritas berkebun. Jarak kebun cukup jauh dari pemukiman. Makananpokok sagu. Sumber protein terbatas. Saat masuk kebun pagi dan kembali sore.Makan siang seringkali dilewatkan atau terbatas dengan kete (keladi). Pulangkerja ibu-ibu kembali mengerjakan tugas rumah tangga. Pekerjaan rumah tangga dilakukan oleh perempuan. Kesehatan perempuan bisa diperkirakan dengan beban kerja yang tinggi, asupan makanan yang tidak adekuat, riwayat persalinan yang banyak. Kesehatan anak bisa diperkirakan dengan sanitasi yang tidak memadai, bermain tanpa alas kaki, BAB tidak di jamban. Cacingan dan anemia menjadi mayoritas masalah.

Suasana Balai Pengobatan 1N3B
Menurut pihak puskesmas, puskesmas keliling dilakukan setiap 3 bulan.Menurut pihak masyarakat kunjungan dokter terakhir 1 tahun yang lalu. Tenaga perawat satu orang tersedia di Madobak. Penyuluhan diberikan seputar PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat), sumber air bersih, dan jamban, cara pengisian KMS (Kartu Menuju Sehat), pemutaran video inisiasi menyusu dini Unicef Klaten, dan pemutaran video persalinan aman.

Mengambil Obat Gratis
Kalau boleh curhat, pelosok Indonesia terbatas oleh keadaan geografis, fasilitas kesehatan, fasilitas pendidikan, fasilitas perekonomian. Dari sisi kesehatan, kita sangat bergantung kepada keadaan ekonomi, pendidikan dan infrastruktur desa. Saat penyuluhan dan penjelasan kesehatan akan sulit bila kita tidak satu bahasa. Kesamaan bahasa didapat lewat pendidikan. Bila tidak ada jamban dan air bersih maka pemberian obat cacing tidak akan maksimal.
Edukasi untuk BAB di jamban akan tidak produktif dilakukan bila dukunganpembangunan desa tidak dilakukan secara simultan. Edukasi makan seimbang sulit dilakukan bila kemampuan ekonomi masyarakat tidak diberdayakan dan pola bercocok tanam dan peternakan tidak diupayakan. Namun sangat disadari tidak mungkin melakukan semua hal itu dalam satu kali kunjungan. Pemberian edukasi diharapkan dapat meningkatkan keinginan dan kesadaran masyarakat untuk memperbaiki perilaku hidup bersih dan sehat.
Satu hal yang tidak terlupa adalah perjuangan saudara-saudara disana dalam menjalani hidup dalam mengatasi keadaan geografis, dalam mengarungi kehidupan yang telah mereka tempuh selama ini. Senyum anak-anak yang buncit, berbaju robek, gigi yang kotor terus memberikan pesan bahwa mereka juga layak mendapat standar kesehatan yang terbaik. Tidak hanya anak-anak di kota besar.

Tim Kesehatan 1N3B
Satu hal yang pasti, keadaan disana bukan karena saudara-saudara di sana bodoh, malas, atau tidak mengerti, keadaan tersebut bukan kesalahan saudara-saudaradi sana. Keadaan tersebut adalah karena belum optimal dan maksimalnya ketersediaan fasilitas pendidikan, kesehatan, dan perekonomian. Semuanya yang idealnya disediakan oleh negara kita tercinta.
Mari majukan Indonesia!
Salam SEHAT
-anto-
Tags: Madobak








