Blog

Ada cerita di Sungai Lisai

by Susan

 

Adalah satu tulisan singkat di sebuah media online yang memberitakan tentang sebuah desa tertinggal di dalam area Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS). Dua surveyor kami bernama Arief (Gethuk) dan Nikk kami utus untuk mencari tahu kebenaran berita tersebut.

Lalu konon katanya selalu ada jalan untuk kebaikan. Hingga akhirnya ada berita bagus yang mengatakan bahwa salah satu anggota 1n3b ternyata memiliki hubungan erat dengan salah satu kawan di bengkulu yang akhirnya mengantarkan kedua telik sandi tadi menelusuri keberadaan desa tersebut. Begitu data didapat, ceritapun mulai disuratkan di kalangan milis, kami (seperti biasa) segera melebarkan mulut ke mana-mana untuk mendapatkan simpati dan donasi. Tak banyak memang bantuan kali ini dikarenakan waktu persiapan kami begitu singkatnya berbanding dengan kegiatan 1n3b sebelumnya yang memakan waktu kurang lebih 6 bulan sebelum eksekusi.

Namun seperti yang saya tulis tadi selalu saja ada jalan untuk kebaikan, maka meskipun tak banyak sponsor maupun donasi yang hadir, akhirnya kamipun menuju Sungai Lisai- Pinang Belapis- Bengkulu.

Tidak seperti tahun lalu dimana kami berduapuluhan orang, kali ini kami menyadari bahwa kami hanya akan berdelapan saja dari Jakarta. Saya, Abah, Handy, Ijul, Bu Sita, Ferry, om CT dan pastinya Gethuk yang didaulat menjadi ketua. Namun waktu hari H tiba, seorang kawan muncul menjadi penyelamat. Karena menurut Abah (dalam guyonannya) ia menjadi penyelamat tim di saat mereka mengalami overweight baggage sebanyak 11 kilo di depan counter  Sri******air. Namanya mas Undix, ia datang lengkap dengan  perlengkapan Roket air dan helm sepedahnya. Nantinya, helm itu akan menjadi pacar setianya mas undix sepanjang perjalanan.  Dan berangkatlah kami. Untuk mencapai desa Sungai  Lisai kami harus terbang ke Bengkulu dari Jakarta. Dari Bengkulu kami menghabiskan 8 jam perjalanan dengan menggunakan mobil sewaan menuju desa terdekat, Desa Sebelat Ulu. Di sana atas ijin kepala desa Sebelat Ulu kami diijinkan untuk menginap di rumahnya sebelum berangkat keesokan harinya menuju Sungai lisai.

Mungkin anda bertanya bagaimana kami menggotong buku-buku dan perlengkapan lainnya. Dengan jumlah anggota yang sangat sedikit ini tidak mungkin kami harus memanggul 30 kardus buku, papan rumba, kardus kardus berisi logistic, belum lagi keril keril kami yang sebagian besar juga berisi peralatan untuk acara di sana. Hasil Survey menunjukkan nantinya kami akan memakai jasa penduduk setempat sebagai porter. Di sana para penyedia jasa ini disebut Capung. Dan inilah kami ke-sembilan pendekar melintasi hutan lebat dan berawa bersama beberapa capung-capung dan barang-barang di punggung mereka. Dengan tawa dan tangis yang membumbui perjalanan berlangsung selama 6 jam. Normalnya bagi penduduk setempat mereka dapat menggapai Desa Sungai Lisai hanya dengan berjalan 2,5-3 jam saja dari Sebelat Ulu!! Beberapa kali kami berhenti untuk membasuh sepatu dan mengeratkannya kembali. Hanya sekali saja kami berhenti cukup lama untuk  membuka trangia dan membuat kopi sebagai penambah energi.  Ada dua sungai besar yang harus kami lewati dengan tangan kosong. Tanpa bantuan jembatan bahkan tali. Aliran air sungai yang cukup deras tersebut sama sekali tak menyurutkan kami untuk menuju ke Sungai Lisai. Para capung itu ternyata cukup ramah juga dengan kami memberikan petunjuk dan bantuan saat anggota kami ada yang ketakutan melewati sungai sungai itu. Mereka membuat kami berjalan cepat supaya cepat sampai sebelum sore karena dikhawatirkan akan hujan.

 

Akhirnya sesudah pergulatan yang panjang dan melelahkan dengan alam dan berbecek becek dangan rawa, kamipun menginjakkan kaki di Sungai lisai kira-kira pukul tiga sore. Satu hal yang cukup menghibur sekali adalah ketika saya melihat abah berjoget ria sambil berdendang ala suku suku pedalaman dalam merayakan kebahagiaannya yang berhasil juga mengkatamkan hari itu menginjak sungai Lisai. Tak  bisa saya tulis dengan kata-kata seperti apa si Abah berjoget dan bergaya suku Indian dengan“tari perut”. Saya berharap sekali bisa melihat videonya.

Kalau ketika di Sumba kemarin kami menemui gedung sekolah sederhana dengan hembusan angin lembah di Ngadulanggi dan bukit teletabis di kanan kirinya, maka kali ini tidak. SDN Pinang Belapis 06 itu dikelilingi hutan, ia terletak tepat persis di jalan masuk desa. Suasana tenang menyelimuti gedung sekolah yang dekat dengan perkampungan dan  rumah-rumah panggung penduduk yang berjumlah kurang lebih 300an orang dengan 69 KK (CMIIW). Belum lagi jajaran bukit barisan yang menjadi mountain-view tiap kali melongokkan kepala keluar jendela gedung. Serasa di paradise bagian Andalas. Green, peaceful, and quiet..

Kami di tampung di rumah sekdes Sungai Lisai, Pak Herman. Ada hal yang lucu mengenai sekdes ini. Di sini kami, mau tak mau mandi di sungai seperti halnya penduduk lainnya. Kebetulan saya sering berduet dengan mba Ijul untuk man-ber (mandi bareng). Tentu saja area mandinya terpisah antara pemandi laki laki dan perempuan. Dan sebagai pemula kami agak kagok dan risih juga mandi dikali, Cuma berbalut sarung dan harus menceburkan diri di aliran sungai bersama penduduk lainnya. Belum lagi merasakan dinginnya sungai di lembah TNKS tersebut. Penduduk setempat rupanya cukup mengerti bahwa kami tak terbiasa dengan itu karenanya mereka hanya tertawa tawa saja saat saya dan mba Ijul berisik karena kedinginan. “gimana kalau tiba-tiba ada yang muncul waktu kita nyelem yah mbak?” hehehehe “palingan juga abah san”

Ketika asik asiknya kami bergosip sambil mandi, tiba tiba kami dikejutkan oleh pemandangan sesosok laki-laki tinggi besar dari seberang. Saya kira ia akan hanya membasuh muka di samping sungai ternyata ia melewati sungai yang cukup deras tersebut.  “Mbakkk balik arah sana ada yg ngelihat kita.. tapi ga papa sih ga bakal ketemu ini.” Dan ia pun berlalu. Sekembalinya kami dari acara mandi pertama di sungai Lisai, kami terkejut ketika kami sadar laki-laki tadi adalah si Tuan rumah, pak Sekdes!!! Duenggg!!!!

Malam pertama kami lewati dengan meeting bersama para petinggi desa dan penduduk setempat. Pak Kepala desa kebetulan sedang ada di Kecamatan memenuhi undangan dari pak camat. Sehingga semua urusan diserahkan ke sekretaris desanya. Pak herman tadi. Sore sebelum sampai di Seblat Ulu kemarin, kami sempat singgah di rumah pak camat di Lebong dan berbincang bincang dengan beliau yang mana saya ingat bahwa ia pernah mengantar anggota DPRD untuk berkunjung ke sungai Lisai namun gagal total karena mereka merasa jauh sekali dan sepatunya jebol. Oh iya, selama perjalanan dari Seblat Ulu saya dan beberapa rekan menggunakan sepatu patani, Taiyoko yang benar benar bandel, bahkan sepatu gunung pun tak senyaman memakai sepatu taiyoko. Sudah murmer (Cuma Rp. 10-15ribu saja sepasang) kuat pula. Saved my foot pokoknya.

Sepatu Patani

Menjelang maghrib, salah satu anggota yang sengaja kami tinggal datang. Ya, Mas Undix emang disetting untuk ditinggal dan datang menyusul (mungkin sudah takdirnya sebagai yang terakhir muncul) karena ada barang-barang yang tak bisa dibawa karena ada capung yang harus kembali dengan barang-barang lainnya yang belum terangkut. Mas Undix datang dengan langkah lambat melewati jalanan sekitar rumah panggung. Dan bukannya disambut dengan red carpet. Malah diceng-cengin. Hahaha… piss mas.. makasih udah mau dikorbanin. :D .

Malam itu, kami juga berunding dengan para guru SD Pinang Belapis mengenai kegiatan yang akan kita adakan keesokan harinya. Saya sendiri selain sibuk dengan buku-buku juga disibukkan dengan kegiatan yang berhubungan dengan perut para panitia. Otomatis, sore ketika akhirnya kami sampai tadi hal yang harus saya lakukan adalah menyimpan semua bahan makanan ke gudang di dekat dapur. Penduduk di sini selalu menyekat satu ruangan kecil untuk menyimpan bahan makanan, padi dan berbagai macam kebutuhan pokok di  pojok di dekat dapur tempat mereka memasak.  Sesudahnya saya mengintruksikan mereka untuk memasak beberapa menu plus langkah-langkahnya, sayapun meninggalkan mereka dan mengurus yang lain. Menurut saya sih tidak terlalu sulit mengajari ibu-ibu ini, karena pada dasarnya mereka juga memasak makanan seperti yang kami biasa makan. Tapi karena ada bahan yang belum pernah mereka temui, mereka jadi sering bertanya. Takut salah katanya.  Baiklah saya jadi ketua PKK dadakan. Untung ga bego banget soal urusan nyalain kompor dan ngeracik bumbu :p Agak malam saya, mbak Ijul dan Handy ditemani beberapa guru langsung menuju tempat yang akan dijadikan Rumah Baca. Saya cukup tercengang ketika melihat tempat yang akan ditempati buku-buku tersebut. Satu ruang kecil dengan alas tanah, kawat sebagai jendelanya dan rak-rak berwarna hijau. Di salah satu rak tersebut, ada tulisan “dilarang hutang”.  Ternyata sebelum dikosongin, tempat tersebut adalah toko milik guru SD Pinang Belapis yang ia relakan untuk dipakai sebagai rumah baca.

Rumah Baca Sungai Lisai

Sesudah heboh dengan rapat malam, acara susun buku dan rencana esok hari plus ditemani kopi racikan Opa CeTe, malam pertamapun kami lewati dengan tidur yang pulas. Ngampar bersama di ruang tamu supaya besok kami lebih berenergi. Abah yang kelupaan memasukkan sleeping bag mba Ijul mau tak mau harus berkorban dengan tidur berselimut sarung. Meski demikian tak menyurutkan suara genset alamiahnya itu mendengung beringinan dengan sura yang mendesis om Cete. Hehehe.. ajeb.

Keesokan hari, sesudah kembali mandi di Sungai dengan ditemani mba Ijul lagi, kami bersiap-siap ke lapangan depan Sekolah SD di sana. Mempersiapkan segala macam, saya sendiri masih sibuk sana sini, ruwet dengan mengomando Ibu-ibu memasak sup sehat untuk makan siang anak-anak. Untung Bu Sita juga sigap memantau dan memberi tahu cara memasaknya. Namun seperti main job saya di sana, saya sudah digariskan menata buku-buku yang tersisa semalam. Merapikannya karena siang nanti akan ada acara  Di lapangan sekolah terlihat beberapa meja sudah terisi dengan peralatan permainan sains yang siap diserbu murid-murid dari kelas 3 hingga kelas 6. Mas Undik kebagian menjadi mentor baterei kentang, simulasi gempa bumi oleh pak ketua Getuk, Kamera Lubang Jarum (Kaka Ferry), teori air mancur oleh mbak Ijul dan saya sendiri dijadikan mentor telpon gelas plastik. Anak-anak kelas 1-2 dibawah naungan bu sita untuk belajar menggambar dan mewarna. Jujur sebenarnya kalau saja panitia banyak kita tidak akan double-triple job seperti itu, Tapi untunglah bisa dilalui dengan baik dan berhasil saja meskipun malam sebelumnya saya harus dan baru belajar materi yang diberikan. Hehehehe.. selalu menyenangkan belajar dadakan begitu.

Sungai Lisai Student

Awalnya ketegangan dipecahkan oleh Ice breaking dari Bu Sita yang membuat mereka tersenyum, guru-gurupun tanpa sungkan mengikuti semua gerakan dan permainan yang ada. Begitu juga saat kegiatan sains tiap kelompok dipimpin oleh beberapa guru dan ini pun berlanjut saat acara pencarian harta karun di siang hari yang melibatkan rumah baca sebagai lokasi akhir permainan siang dan ditutup dengan acara makan siang bersama. Gelas minum dari plastic pun diberikan sebagai hadiah pertama buat senyum senyum manis anak-anak di Sungai Lisai siang itu. Menjelang sore saya kira semangat mereka sudah mereda, ternyata ketika permainan membuat yel-yel dilakukan tetap tak satupun dari mereka yang beranjak dari area desa. Sore hari pak kades datang dari “kota” dan langsung bergabung bersama kami. Dari sorot matanya tampak beliau sangat senang dengan kehadiran kami dan keceriaan anak-anak serta warganya. Kedatangannya bertepatan dengan acara penyerahan buku secara simbolis. Penyerahan tas dan alat tulis secara simbolis pun diberikan kepada dua anak di sana. Lucunya ketika selesai menerima tas tersebut anak tersebut menangis dan dan meminta supaya tas yang ia terima tadi dikembalikan. Alasannya karena teman-teman lainnya belum menerima!!!! (Ini baru Woooowww…)

Sore itu, Sungai Lisai mendung ngelangut. Kadang sedikit gerimis dan aroma hutan makin terasa. Lapangan volly di tengah-tengah kampong tetap ramai dikerumuni anak-anak dan penduduk sekitar. Acara lanjutan yang menjadi acara puncak buat mas Undik sore itu adalah permainan roket air. Dengan gegap gempita ia mengajari orang-orang bermain roket air dan murid-murid SD berbaris sambil diajari berhitung dalam bahasa Inggris oleh Bu sita. Kami yang bisa rehat sejenak? Sibuk mengabadikan moment tersebut. Damai rasanya di tengah hutan dengan keramaian seperti itu. Kok saya jadi mellow eaaa?

Malam menjelang, habis mandi di sungai dan mba Ijul tetep ngga mau mandi alias cuma ngambang ga jelas di sungai, sayapun kembali ke markas kami dan menikmati kopi serta mempersiapkan acara malam ini. Nonton film bersama di balai desa. Pak sekdes yang baik hati meminjamkan tv-nya yang lumayan gede dan DVD playernya untuk memutar film Laskar Pelangi, Garuda di dadaku dan ntah film apa lagi. Saya lupa karena sejujurnya saya sedang asik bercengkrama dengan ibu-ibu di dapur karena pengen banget membuat kudapan buat dinikmati malam itu. Karena tidak ada hasil perkebunan yang bisa dibikin untuk bahan kue, sayapun meminta mereka memarut kasar kelapa muda dan dicampur tepung, mentega serta gula dan vanili lalu digoreng. Di tempat saya ini namanya Gandos. Tapi karena mereka merasa amazed dengan kue ini, mereka menyebutnya dengan nama Kue Susan!!!!! Katanya supaya ingat terus dengan saya. Untung kepala saya tidak menjebol atap rumah pak sekdes karena keGRanCooking me cooking di rumah Pak Sekdes

 

Malam tidak terhenti di situ karena saya masih ada PR mengajari guru-guru untuk melabel dan menyampul buku sisa yang masih tergeletak. Sesudahnya kami tidur dan mempersiapkan diri untuk perjalanan panjang keesokan harinya kembali ke Sebelat ulu.

Oh ya murid-murid itu bukan hanya dari Desa Sungai Lisai saja, kami juga mengundang adik-adik dari desa Air Putih yang letaknya masih satu jam perjalanan lagi dari S. Lisai dan melewati lagi sungai yang besar. Onde Mandeeee… Namun begitu semangat mereka sama, ingin merasakan acara yang kami bawa untuk mereka. Skenario peminjaman buku perpus juga sudah diatur oleh para guru, mereka akan ke sungai Lisai dan meminjam beberapa buku. Minggu depannya akan datang lagi mengembalikan buku dan meminjam buku yang lain. Begitu seterusnya. Dalam hati bagaimana kalau ternyata bukunya sudah dibaca semua? Akan baca buku yang sama kah mereka?? Well…

Esoknya tidak terhenti di situ. Pagi itu kami harus menahan tangis haru karena “dikejutkan” oleh permintaan guru-guru dan murid-murid untuk berdiri di depan mereka yang sudah rapi berbaris bak upacara bendera dengan seragam merah putih. Masih dengan pemandangan kaki yang beragam ada yang bersepatu, bersandal jepit dan juga ada yang tak beralas apapun. Lalu Surpriseeeeee…. Seorang murid berdiri membaca puisi itu untuk kami, membuat kami yang sok tegar ini menahan isak tangis. “Sialannn gw ga bawa kacamata.” Mba Ijul berbisik sambil memalingkan muka. Tak memandang jenis kelamin, kamipun larut dalam haru dan semangat mereka yang ingin maju bersama kami katanya.

Sigh.. Adik adik kecil dan lugu berhati tulus yang jauh dari peradaban ibukota dan kota besar.. suatu hari nanti semoga bapak-ibu di atas kursi dalam gedung besar itu akan dengan sengaja mau meluangkan waktu mendatangi kalian dan sadar bahwa ada 300an warganya yang harus melintasi sungai sungai berarus deras untuk datang ke Sebelat Ulu, yang harus rela berjalan demi mengobati saudaranya yang sakit parah dan bahkan kadang ada yang meninggal di tengah jalan merenggang nyawa karena sudah tidak kuat lagi berjalan mencari puskesmas. Semoga mereka juga sadar bahwa ada sebagian orang tua yang harus melepas anak-anaknya untuk bisa melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Pertama di desa seberang yang jauh sekali dan kembali sebulan sekali kadang lebih.

Dan saya tidak tau apakah akan ada kesempatan lagi menengok desa kecil di bawah kaki TNKS tersebut… Nice to see you all…

 

Sungai Lisai,

25-27 Nov 2011


Bengkulu to Sungai Lisai Village – Bengkulu, Indonesia

Story:

On late November 2011, a small literacy community send books to Sungai Lisai village, Pinang Belapis sub-district, Lebong regency, Bengkulu province, as a public library’s starter kit, namely RUMBA SUNGAI LISAI. RUMBA or “Rumah Baca” means house of reading. During shipment process, books must overcoming they nemesis, water.

As the first step, most of books was shipped by commercial transport from Jakarta to Bengkulu a week before, and the rest by field team, who will officially handing to Sungai Lisai peoples.

In November 25th night, nine person that represent this community, arrived at Seblat Ulu Village using four-wheel drive car, where the one and only road to Sungai Lisai ended. In the next day, the 400 kilograms packages books, school bags, stationary, and the rest, began their 10 kilometres journey through the forest by walked.

At the end of Seblat Ulu village, Seblat river have been waiting for. With a width of 20 meters and a depth of one meters, Sungai Seblat is a real threat to the books.

After struggling to overcome Seblat river’s swift current, the team and theirs local companion, move through wet paddy field and muddy soil, which in most part of this single track, muddy soil turn out to be pools.

Another Seblat River part have been waiting for the team to be crossed. It is another part but still the same widht and depth, also challenging.

Why do we need to cross the same river twice?

Actually, both Seblat Ulu and Sungai Lisai, built in west side of riverbank, if we draw straight line in map. But this alternative’s trackside is tougher than regular. You must crossing a dozen small of watercourse of Seblat River and climb up and down several hill. Local peoples only using this track when Seblat River become too dangerous to cross.

After the second crossing, most of the trackside is muddy and, at worst, pools. A dozen of small watercourse had been waiting for, most of them without bridge.

After 5 hours walk, double than normal, the packages was arrive at Sungai Lisai village, safely.

by: Undix with a Garmin Colorado 300

from Original Post

 



..to the children of Indonesia..

By Yulia Absari aka Ijul, an employee in a multinational company, volunteer 1N3B. She lives in Jakarta.

ijul

My last social activity this month and it so happen that it falls on the week of my birthday.

ijul-iting

I almost couldn’t go cause until the end of June, I still haven’t submitted my leave & haven’t prepared for anything. Anyway, things went well and got the ticket on my hand. However, since I had other stuffs like LSC & KKS Melati, so the preparation for the story telling & origami was made 1 week before D-Day. Pretty worried that I couldn’t make it in time, but thankfully, everything went well as it planned, and the EXCITEMENT begin!!

We are leaving on the 28th by Batavia, with route JKT-KPG-WGP. Quite shaky, but the heck, nothing compares my madness when knowing a passenger across me was having his phone ON all the way from JKT-KPG !! (when his phone was accidentally ringing, I looked at him & asked him to turn it off, but do you wanna know what he said? He said, “It’s OK, I already reject the phone & always turn the phone on”. What the F*@$ !!!). Ugh, had I not realized it’s the beginning of my journey, I would punch him on the face. I couldn’t call the flight attendant as everybody’s were all ready for landing position. (more…)


Tanah Sumba nan Exotic

By:  Sita Rahmah, Chairman at Mutiara Bunga Bangsa Foundation, volunteer of 1N3B.

Wednesday, August 18, 2010

Waingapu, Ngadulanggi, Pulu Panjang, Goa, Waikabubak, Kodi, Tarung, Roteng Garo, Pero and, Tambolaka are the name of those beautiful places, I visited last July. The people, nature and cultures are unique and beautiful there. We rented a truck and rode for the destinations. The access road to reach Ngadulanggi village is not yet properly built. It is just a simple bumpy road, and too much uncomfortable, I must say. During the travel, we were jolting throughout in the truck, like being surrounded in the middle of Tsunami wave. The view to reach Ngadulanggi is awesome and beautiful like paradise. We went from one hill to another hill just like heading from one to another heaven of the world. To be in this hidden heaven in one corner of this universe is just like a dream. I went there to carry out some volunteer works, as a participant in 1N3B activities. We organized fun games for about 400 children. We donated some stuff to them, like school uniforms, food, school bags, stationeries, and also distributed medicines to around 700 people of Ngadulanggi and Pulu Panjang village. (more…)


Berbagi Cerita dan Cinta di Sumba : Ini, kita di Sumba tho?!!

susan1

Ini mimpi. Saya beberapa kali berucap demikian pada seorang kawan. Waktu masih berada di bangku kuliah dan mengambil mata kuliah MKI (Manusia dan Kebudayaan Indonesia) secara acak saya mendapat tugas presentasi makalah tentang budaya penguburan Sumba. Saya pontang panting mencari referensi karena saat itu internet belum segahar sekarang yang dengan mudah memberi kita berbagai ulasan tentang kata kata yang kita ketik di mesin pencari informasi. Kemudian sesudah menemukan data datanya saya hanya bisa membayangkan saja seperti apa Sumba, seperti apa kuburan yang dimaksud, seperti apa kepercayaan Marapu yang mereka anut, seperti apa mereka .. orang orang Sumba. Saya hanya bisa tertarik saja dan mengingat apa saja yang terjadi saat pemakaman dilakukan.

Sebelum berangkat, ibu korlap mendapat info akan adanya upacara pamakaman di desa sebelah sehingga kita bisa melihatnya juga jika mau. Saya berbinar binar dan makin semangat untuk berangkat. Saya berbinar meskipun saya belum tau tentang desa sebelah itu sejauh apa.

Tanggal 28 Juli pagi buta saya dan kawan kawan yang jumlahnya sekitar 17 orang itu bersama sama terbang ke Sumba dengan rute Jakarta-Kupang-Waingapu dan dilanjutkan dengan truk menuju Ngadulanggi. Dari balik jendala kecil disamping tempat kami duduk di atas pesawat mata ini sudah terkagum kagum dengan pemandangan daratan di Sumba yang terlihat dari udara. Pasir putih yang memisahkan laut hijau-biru dan pulaunya, daratan yang saling menggelembung membentuk bukit bukit berwarna cokelat dari udara membuat saya melupakan rasa takut untuk menengok ke bawah. Saya hanya bisa melihat sambil berdecak kagum tentang betapa kayanya negeriku yang mengandung ranah beranak pinak yang berbeda satu dengan yang lainnya dan tanah dibawah pesawat ini adalah contohnya. Jadi kenapa harus ribut mengurus paspor dan berburu tiket pergi ke negeri tetangga jika pulau pulau di negara kita saja belum sempat kita singgahi seluruhnya. Oh iya saya lupa, sebagian menganggap kalau pernah pergi ke Singapore atau ke Malaysia atau ke Vietnam dan lain lain itu lebih keren daripada ke Sumba, ke Rote, ke Kupang dan lain lain yang berbau Indonesia.

Sesampai di Waingapu kami disambut oleh Adipapa, Yubi dan Umbu Angga, koordinator di Waingapu dan Ngadulanggi. Juga Om CT dan Nikk yang sudah tiba dahulu di sana. Sebagai penyambutan, Dr Dani dokter di RS di Waingapu menyambut kami dengan makan siang bersama di Rumah sakit. Terima kasih dokter :)
Untuk memasuki Desa Ngadulanggi ternyata tidak muda. Kami membutuhkan 4-5 jam lamanya dari Waingapu. Kira kira pukul 6.30 malam kami mendengar suara keramaian dari alat musik gong dan kentongan yang bercampur dengan suara orang orang yang saling bersahutan sebagai tanda menyambut kami. Truk yang kami tumpangi tidak berhasil melewati sungai kecil saking banyaknya batu batu di sekitar sungai dan menyebabkan kami berjalan sendiri menuju desa.

“Kita akan tidur di ruang kelas SD Ngadulanggi, ingat!” Kata Tyty, kordinator lapangan yang tak henti hentinya bicara dari awal acara dimulai sampai akhir.

Tari-tarian selamat datang yang ditampilkan wanita wanita Ngadulanggi makin membuat suasana malam makin ramai, mereka mempersilahkan kami duduk di bangku-bangku sederhana di bawah tenda terpal yang sudah mereka siapkan untuk kami. Tak lupa kehadiran pinang yang mereka suguhkan sebagai sambutan. “Ayo, silahkan dimakan. ini adat kami untuk menyambut tamu.” Seloroh seorang wanita dengan logat Sumba yang sedari tadi mengikuti saya, nantinya saya baru tahu bahwa itu adalah istri kepala sekolah SD Ngadulanggi. Sayapun sempat mencicipi. Rasanya sepet. Tapi tetap saya makan karena rasanya aneh dan tidak bisa diungkapkan. Pinang di adat Sumba adalah jamuan kebesaran tuan rumah untuk tamunya.

Pendudukpun bergotong royong membantu kami mengangkuti berkardus kardus barang kiriman yang mengendap di rumah Kepala Desa untuk kami olah dan tata sesuai rencana.  Nantinya saya makin mantab mengatakan kalau desa ini memang pantas menerima sumbangan dari 1n3b karena sesuai dengan misi komunitas ini “pendidikan semestinya bebas sekat geografis, suku, agama, ras, dan golongan sosial”. Desa ini memang sulit dijangkau
(more…)


Berbagi Cerita dan Cinta di Sumba: Persiapan yang Melelahkan

Sahabat 1N3B,

Tulisan ini adalah awal dari beberapa tulisan anggota tim lapangan 1N3B yang melakukan perjalanan ke Sumba Timur pada akhir Juli 2010 yang lalu.  Bercerita tentang suka duka, Susan* sang manajer Rumba ketika melakukan persiapan untuk rumah baca Woka Ngiapaajar selama beberapa bulan di Jakarta.  Salah satu kesulitannya adalah ketika melakukan konsolidasi dengan anggota tim Rumba. Susan pernah mengalami tak seorang pun anggota tim-nya muncul karena kesibukan masing-masing. Dalam komunitas seperti 1N3B, hal ini bisa saja terjadi. Oleh karena sifatnya volunteering, seorang volunteer dapat sewaktu-waktu mengundurkan diri memilih menjadi anggota pasif dengan berbagai alasan tanpa bisa dicegah. Teman-teman yang bertahan dari awal sampai akhir kegiatan biasanya bertahan karena komitmen yang kuat dan tentu saja karena keyakinan masing-masing. Selamat menikmati rawian mbak Susan yang arek Suroboyo ini.

Salam 1N3B!

-Yoga-

***

susan

Mengiyakan menjadi kordinator rumah baca untuk acara 1n3b kali ini adalah jebakan yang mungkin telat untuk saya tampik. Bagaimana tidak? Ketika memulainya saya merasa sangat tidak tau apa apa tentang bagaimana mengelola rumba kecuali short course dari Mbak Titi Ungu pemegang kursi kepemimpinan Rumba dari tahun ke tahun yang komunitas 1n3b lakukan saat persiapan kegiatan yang sama tahun lalu. Tahun lalu saya memang membantu persiapan tim Rumba sebagai ajang saya yang melenceng dari profesi saya saat itu, sekretaris yang tak pernah kerja dan melayani ketua, itupun hanya menjadi penyampul buku saja. hihihi.. Jebakan bermula dari sini. Akhirnya dengan entengnya mbak Yoga ketua tahun ini memberikan mandat itu pada saya dan saya seperti kena guna guna, langsung mengiyakan! Lalu mulailah saya bergerelya mencari cari anggota dari berbagai kalangan.

(more…)


Sekelumit Cerita dari Madobak

Ary, Manajer Kesehatan Tim 1N3B Edisi Mentawai

Ary, Manajer Kesehatan Tim 1N3B Edisi Mentawai

Yang berkisah kali ini Ary, sang manajer kesehatan yang nampak di foto berbaju merah muda. Ary akan bertutur dengan gaya bahasa sehari-hari yang ringan, lucu dan menyenangkan, khas Ary. Ia biasa menyebut dirinya dengan “gw” singkatan dari “gue”, bahasa anak muda Jakarta untuk menyebut dirinya sendiri. Bagaimana kisahnya? Silahkan menyimak ya.

***

Usianya baru 21 tahun, sangat belia bila dibandingkan dengan umur gw :) tapi di usia segitu Ibu Neseko (kalau gak salah liat yah nama nya hehe) sudah memiliki lima anak….mari kita berhitung saja secara matematika, bila anak tertua ibu itu saja sudah berusia sekitar 7 tahun berarti Ibu Neseko menikah pada usia 13 tahun usia yang sangat muda sekali untuk memasuki sebuah kehidupan rumah tangga.

Ibu Neseko dengan kelima anaknya adalah salah satu dari pasien kami di tim balai pengobatan dalam rangkaian acara kegiatan sosial bersama team 1N3B di desa Madobag di kepulauan Mentawai Sumatra Barat, 21-22 Mei 2009. Catatan,  di team 1N3B gw bukan dokter, juga bukan apoteker hehe :)  cuma sekadar membantu-bantu saja, membantu apa yang bisa gw bantu sesekali gw juga SKSDSN (Sok Kenal Sok Deket Sok Nasehatin) sama pasien hehe…:P mencoba untuk berbaur…
Kembali ke masalah Ibu Neseko, Pernikahan dini, banyak anak menjadi sebuah kewajaran di desa Madobak  ini sangat ironis ketika gw membayangkan apa yang tengah di lakukan anak-anak di daerah perkotaan (Jakarta misalnya) dengan anak-anak Madobak di usia 13 tahun atau di usia 21 tahun.
Usia 13 atau 21 tahun untuk sebagian besar orang Jakarta atau daerah perkotaan pada umumnya adalah usia dimana mereka sedang menikmati masa anak-anak dan remaja,  berkumpul dengan teman-teman (ngomongin masalah mode, gosip, dan sebagainya), sekolah, kuliah, jalan-jalan dll. Sedangkan di desa Madobak wanita dengan range usia tersebut sudah disibukkan dengan urusan keluarga, memasak, mengurus anak dan suami. Yang mengejutkan adalah banyak anak menjadi satu target bagi mereka karena untuk memenuhi target jumlah penduduk guna mempercepat proses pemekaran desa (gw blom sempet cross check dengan aparat setempat, baru dapet info dari ibu2 nya aja) emangnya perempuan itu mesin pencetak anak :( (( hhhhhhh…………. :( miris memang…. (more…)


Water Rocket Party for All

Undix aka Sri Sutyoko

by Sri Sutyoko aka Undix

Water rocket is one of the most exciting also daring tools to learn physics. The raw excitement that explode while the blasting water appear followed with lift-off, open a gateway to teach Newton’s Law of Gravity easier than using classical teaching in the classroom. This is the main message from water rocket experiment as a part of 1N3B program, “Bagi Buku – Bagi Ilmu – Bagi Anak Negeri, May 21 – 23, 2009, in Madobag Village, Siberut Island, Mentawai Islands, Indonesia.

Commence... Fire! Lift Off...

Commence... Fire! Lift Off...

Without writing F = m.a formula, I asked the student to learn Newton’s Law from a small water rocket competition. Divided into three groups, namely Nusa-Bangsa-Bahasa, I gave them only three chances to win the competition.

Set to launch and countdown begin.30.. 29.. 28.. 27 ... 1

Set to launch and countdown begin.30.. 29.. 28.. 27 ... 1

The winner is the group who recorded the longest flying time. Even the prize is priceless in Jakarta-my completed built-up water rocket that constructed from rubbish-the student still showed good fighting spirit to win.

Contrary to my fellow mentors at that event, I did not create a yell for them. I just asked the student to count natural number, from 30 down to zero. If the countdown classified as a yell, it might be the longest and mathematically yell that ever shouted since Pangrango.Com Community lighting up 1N3B Movement in 2005.

Student donated hand pump, launcher tube, and rocket to Vice Head of District Administration of Mentawai Islands.

Student donated hand pump, launcher tube, and rocket to Vice Head of District Administration of Mentawai Islands.

The winner of this small competition recorded more than six seconds flying, far and away from average three seconds. While the winner in another class brought the prize as private property, my student immediately donated the prize to their school as public property, so everybody can learn how to built and launch water rocket. (more…)


dr Anto dan Pengalamannya di Desa Madobak

Salah satu kegiatan kami di Mentawai adalah menyediakan pengobatan cuma-cuma dan penyuluhan kesehatan.  Untuk kegiatan ini, kami menurunkan satu tim kesehatan yang terdiri dari dua orang dokter, yaitu dr. Anto dan dr. Hendra didampingi manajer bidang kesehatan, Ary.  Catatan di bawah ini adalah tulisan dr. Anto. Selamat menyimak.

***

dr. Anto dan dr. Hendra

dr. Anto dan dr. Hendra

Kemarin selama satu minggu 19-25 mei saya dapat kesempatan pergi bersama sekelompok teman dari Jakarta ke desa Madobak,  Muara Siberut kepulauan Mentawai Sumatra Barat. Teman-teman dari Jakarta ingin membangun rumah baca, berbagi permainan sains, putar film Laskar Pelangi dan pengobatan dan penyuluhan untuk masyarakat di desa Madobak.

Tim Kesehatan di Atas Perahu Pong-Pong

Tim Kesehatan di Atas Perahu Pong-Pong

Proses perjalanan dimulai naik pesawat ke Padang, kemudian menuju pelabuhan Bungus dengan naik feri selama 10 jam sampai pulau Sipora. Dari pulau Sipora dilanjutkan dengan speed boat selama 2,5 jam sampai ke pulau Muara Siberut. Kemudian menuju Desa Madobak ditempuh perjalanan 4 jam dengan perahu pong-pong (perahu dari kayu besar yang dibelah dan dibentuk perahu dengan tenaga penggerak berupa mesin seperti pemotong rumput dengan baling-baling yang dimodifikasi sebesar telapak tangan dewasa). Perjalanan dengan perahu pong-pong selama empat jam melewati sungai yang berliku terbentuk dari aliran air dari lautan.

Persiapan Balai Pengobatan

Persiapan Balai Pengobatan

dr. Hendra Menyiapkan Obat-Obatan

dr. Hendra Menyiapkan Obat-Obatan

Sampai di desa Madobak tidak ada listrik dan sinyal. Sekolah yang ada SD dan SMP, untuk SMA anak-anak desa Madobak harus ke Muara Siberut. Fasilitas kesehatan terdapat Polindes, namun sudah ditumbuhi ilalang dan tidak terpakai lagi. Tenaga kesehatan terdapat satu perawat kesehatan. Satu tenaga bidan, dan beberapa kader posyandu.
Instalasi air bersih tidak ada. Air diambil dari sungai atau hujan. Jamban tidak ada di setiap rumah. Sebagian besar penduduk tidak memiliki jamban. Di gedung SD tempat menumpang sudah terdapat jamban namun tidak terlihat tanda perawatan yang memadai. Mandi dilakukan di sungai, mencuci sikat gigi disungai. BAB dilakukan bisa di kebun atau sungai kecil belakang rumah atau aliran sungai.

Suasana Kegiatan Balai Pengobatan 1N3B

Suasana Kegiatan Balai Pengobatan 1N3B

Sebagian besar orang tua tidak bisa berbahasa Indonesia atau tidak lancar. Anak yang bersekolah bisa mengerti bahasa Indonesia. Ruang kelas berupa bangunan permanen. Dengan kursi, meja dan papan tulis. Di ruang kepala sekolah sudah terdapat white board.

(more…)


Seusainya Misi di Mentawai

4709_90034542397_591247397_1801250_2241010_n

Sahabat 1N3B,  perjalanan ke Mentawai telah lama usai. Kami menyepakati perjalanan tersebut hanya sebagian kecil dari keseluruhan rangkaian kegiatan ini. Selanjutnya kami harus menyiapkan pertanggungjawaban pada para sahabat yang telah berpartisipasi. Cerita-cerita dari anggota tim 1N3B yang sukses menyelesaikan misi di lapangan, akan menjadi bagian dari pertanggungjawaban, begitu pula dengan foto-foto dan video yang telah diambil oleh rekan-rekan bagian dokumentasi akan jadi saksi perjalanan yang telah berlangsung dari tanggal 19 hingga 23 Mei 2009.

4568_100234663776_571953776_1837605_1827491_n

Khusus untuk dokumentasi video, sebuah film pendek kisah perjalanan ini inshaAllah akan dipublikasikan khusus pada tanggal 17 Agustus 2009. Bagi sahabat yang memiliki akun di Facebook dan telah menjadi anggota group kami di sana, tentunya telah menerima pengumuman yang telah disampaikan oleh rekan kami Undix, beberapa waktu yang lalu.

Lantas setelah itu semua usai, mungkin sahabat 1N3B bertanya apa yang akan kami lakukan kemudian? Tentu kami berharap visi komunitas 1N3B tidak akan berhenti sampai di sini. Masih banyak daerah terisolir yang menanti.  Dengan segenap kemampuan dan kelemahan kami, ingin rasanya memberikan jendela dunia pada semua anak di daerah terisolir dan kami yakin sahabat sekalian tidak akan meninggalkan kami berjuang sendirian.  Jalan masih panjang semoga dimasa yang akan datang jalan itu tetap kita tempuh bersama-sama.

Nah, tulisan ini akan mengawali kisah-kisah yang akan disampaikan oleh beberapa rekan kami yang mengalami langsung berinteraksi dengan masyarakat desa Madobag. Ada beberapa sudut pandang yang menarik dan banyak hal-hal yang akan membuka mata kita tentang bagaimana situasi nyata yang terjadi di sana.  Selamat menikmati.