Posts Tagged ‘Madobak’

Bagi Buku – Bagi Ilmu – Bagi Anak Negeri 2009 :: Kepulauan Mentawai

Edisi perdana “Bagi Buku – Bagi Ilmu – Bagi Anak Negeri” di Kepulauan Mentawai 2009 dalam satu tayangan lengkap. Selain membuka rumah-baca dan pendidikan luar-kelas, ada juga pagelaran pengobatan prodeo. Bagian ini juga ada panduan bagi pendidik dan murid perihal materi pendidikan yang diberikan pada waktu itu.


Laporan Kegiatan “Bagi Buku – Bagi Ilmu Bagi Anak Negeri 2009” di Mentawai

Laporan Kegiatan

“Bagi Buku – Bagi Ilmu Bagi Anak Negeri 2009”

Gerakan 1 Nusa 1 Bangsa 1 Bahasa 1 Bumi

Pada 20-23 Mei 2009 komunitas 1N3B [1 Nusa 1 Bangsa 1 Bahasa 1 Bumi] telah melaksanakan acara “Bagi Buku – Bagi Ilmu Bagi Anak Negeri” di Desa Madobag, Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai. Semula acara direncanakan ada di dua tempat, yakni Muara Siberut juga. Namun atas pertimbangan medan dan waktu, tim memangkas rencana dan memusatkan konsentrasi hanya ke Desa Madobag belaka.

Empat acara pokok yang dilaksanakan selama hari-hari di lokasi adalah: penambahan koleksi dan perlengkapan rumah baca masyarakat, pendidikan sains dan humaniora di alam terbuka, pengobatan massal sekaligus penyuluhan kesehatan, dan nonton bareng film Laskar Pelangi.

1N3B mendistribusikan 1.552 eksemplar atau 1.401 judul buku ke Rumah Baca Tuddukat, dimana 281 eksemplar buku berasal dari pembelian dan 1.271 eksemplar buku berasal dari donasi langsung. Seluruh buku yang dikirim telah tersampul rapi dan lengkap dengan label warna kode klasifikasi Sumbangan ini secara simbolis diterima oleh Wakil Bupati Kabupaten Kepulauan Mentawai pada 21 Mei 2009. Rumah baca ini selanjutnya akan dikelola oleh SD-SMP Satu Atap Negeri 07 Madobag.

Acara pendidikan sains dan humaniora luar-ruangan melibatkan 110 murid SD-SMP Satu Atap 07 ditambah 10 guru. Selama hampir empat jam, pada 22 Mei 2009, mereka mempelajari prinsip metodologi penelitian, fisika, biologi lingkungan, geologi, dan kecerdasan ruang melalui enam matapelajaran. Keenam matapelajaran itu adalah: herbarium, kelembaman (inertia), telepon kaleng, gempa bumi, roket air dan mini trilomba.

Pokok acara ketiga adalah pengobatan massal dan penyuluhan kesehatan masyarakat seputar PHBS (perilaku hidup bersih dan sehat) . Mengandalkan dua dokter umum dan dukungan tiga paramedis setempat, acara ini menangani 356 pasien dalam dua gelombang, 21 Mei dan 22 Mei 2009.

Untuk kegiatan ini, 1N3B 2009 telah menyalurkan dana senilai Rp30.149.521, tidak termasuk ongkos perjalanan tim lapangan dan melibatkan 36 orang, 17 di antaranya turun ke lokasi. Sebanyak 52,8 persen dana membanjiri Pustaka Tuddukat, 32,7 persen mengalir ke pendidikan/permainan sains, 12,8 persen menetes ke pengobatan massal dan penyuluhan kesehatan, 1,6 persen ke pengeluaran sekretariat.

Dana yang terhimpun untuk acara ini 55,1 persen rencana anggaran. Partisipasi komersial perusahaan yang semula jadi andalan, gagal total. Namun hal ini bukan gelagat kiamat. Kerja keras penjualan langsung cindera-mata dan pendekatan individual, mampu menambal kebutuhan minimal pelaksanaan acara.

Sumber dana terbesar (71,9 persen) adalah sumbangan pribadi, disusul penjualan cindera-mata (24,5 persen), kerjasama penjualanan buku dengan Penerbit Gramedia (2,3 persen). Gabungan swadana warga Madobag dan kerjasama donasi lintas komunitas (Jakarta Ocean Dive) menyumbang 1,3 persen.

Besarnya sumbangan pribadi mencerminkan kepercayaan masyarakat yang tinggi terhadap kegiatan ini. Atas nama 1N3B dan putra-putri Desa Madobag, kami mengucapkan terimakasih atas kepercayaan ini. Laporan lebih rinci mengenai kegiatan dan pemakaian dana masyarakat dapat disimak pada lampiran.

Dengan keluarnya laporan kegiatan “Bagi Buku – Bagi Ilmu Bagi Anak Negeri”, paripurna juga proses kegiatan ini, sejak terbersit sebagai ide pada Maret 2009. Pada tanggal 12 September 2009, 1N3B akan memublikasikan film dokumentasi acara “Bagi Buku – Bagi Ilmu Bagi Anak Negeri”. Kami akan mengirim prodeo film ini dalam edisi DVD terutama kepada para donatur dan pendukung kegiatan ini. Rasanya terlalu tinggi hati menyebut film seperti ini sebagai tanda terimakasih. Mungkin lebih tepat menyebut benda ini sebagai tuddukat atau warta, yang mengabarkan kepada dunia bahwa sekat geografis, suku, agama, ras, dan golongan sosial, pernah ditembus oleh 1N3B di Mentawai atas bantuan dan kerjasama berbagai pihak pula.

Akhir kata seluruh tim 1N3B 2009 dan mewakili masyarakat Desa Madobag di P. Siberut, sekali lagi mengucapkan terima kasih. Kami mohon maaf atas keterlambatan pelaporan kegiatan dan keuangan ini yang hampir dua bulan dari rencana. Semoga kami menjadi lebih baik pada kegiatan mendatang. Sampai jumpa di kegiatan 1N3B selanjutnya.

Jakarta, 29 Agustus 2009

Atas Nama Tim 1N3B

Ketua

Fakhri Julverdie

File Laporan dalam bentuk PDF (Small File)

File Laporan dalam bentuk PDF (Large File)


ACARA BAGI ILMU-BAGI BUKU-BAGI ANAK NEGERI PADA TANGGAL 22 MEI 2009 (CLOSED)

Pada tanggal 22 Mei 2009, pagi nan cerah, saatnya berbagi keceriaan dan ilmu bersama anak-anak Desa Madobag.

Cheers!

Foto-foto lainnya dapat dilihat disini


Acara BAGI ILMU-BAGI BUKU-BAGI ANAK NEGERI pada tanggal 21 Mei 2009

Persiapan-persiapan yang diperlukan telah dilaksanakan pada tanggal 20 Mei 2009. Adapun acara pada tanggal 21 Mei 2009, adalah:
- Balai pengobatan massal gratis yang dilaksanakan sejak pagi hari sampai dengan sore hari.
- Peresmian Rumah baca Tuddukat pada sore hari oleh Wakil Bupati kepulauan mentawai.

Foto-foto lainnya bisa dilihat di sini


Aktivitas Tim 1N3B pada tanggal 20 Mei 2009

Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang dari Jakarta, akhirnya Tim 1N3B tiba di Desa Madobag pada tanggal 20 mei 2009 sore hari.  Rupanya Panitia lokal dan masyarakat telh mempersiapkan Turuk mentawai untuk menyambut kami. Bagi kami turuk tersebut merupakan sambutan yang sangat istimewa disamping keramahtamahan dan senyum hangat dari masyarakat.

Tanpa harus beristirahat lama-lama, dengan  Penerangan seadanya dari Generator listrik dan kekhawatiran nyamuk malaria, Tim 1N3b bersama panitia lokal melakukan persiapan pada Rumah baca Tuddukat dan Pengobatan Massal serta mengadakan acara nonton film bareng.

Foto-foto lainnya dapat dilihat disini


Perjalanan Tim 1N3B Menuju Desa Madobag, P. Siberut

Pada hari selasa tanggal 19 Mei 2009 Tim 1N3B sebanyak 16 orang berangkat menuju Desa Madobag, P. Siberut dengan barang bawaan (bagasi)  pada saat di Bandara soekarno Hatta, berjumlah  lebih dari 250 Kg (belum termasuk belanja logistik bahan makanan/barang tambahan di Padang). Satu orang volunteer, Mr. Sri Setyoko aka Undix,  berangkat satu hari sebelum tim besar,  menjadi Tim Advance di Desa Madobag.

Jalur yang ditempuh kali ini untuk menuju Desa Madobag adalah:

Jakarta – Padang (pesawat, 2-3 jam)

Padang (Bungus) – Tuapeijat, P. Sipora (Kapal ASDP Ambuambu, 10-11 jam)

Tuapeijat, P. Sipora – Muara Siberut, P. Siberut (Boat, 4 jam)

Muara Siberut, P. Siberut – Desa Madobag (Boat dan Pompong, 3-4 jam)

Rasa lelah dalam Perjalanan panjang yang ditempuh, ketika tiba di Desa Madobag sekejap sirna oleh  senyum, tawa, semangat dan sambutan hangat nan tulus masyarakat Desa Madobag.

Foto-foto lainnya dapat dilihat di sini


Sebelum ke Mentawai

Sahabat 1N3B, ungkapan practices make perfect juga berlaku bagi kami. Disela-sela kesibukan seperti meregistrasi buku-buku dalam data base, menyampuli buku-buku, pelabelan berdasarkan kategori, kegiatan pengiriman, pembelian obat-obatan dan penggalangan dana dan buku dari donatur serta fund rising dalam bentuk penjualan merchandise, dan kaos 1N3B. Para volunteer terutama yang akan terjun ke site dan bertugas mengarahkan kegiatan sain di alam terbuka, tidak lupa berlatih untuk “tampil” di hari H. Perlu sahabat ketahui, beberapa diantara anggota tim ini, telah memiliki pengalaman dengan kegiatan serupa sebelumnya, yaitu ketika mendirikan rumah baca di Sawarna dan Ranu Pane, namun demikian bagi mereka latihan tetap penting.

Puncak latihan tersebut adalah acara gladi resik yang diadakan di hutan kampus Universitas Indonesia, di Depok, Jawa Barat pada tanggal 2 Mei 2009. Dalam gladi resik tersebut para mentor, mempersiapkan alat peraga andalan masing-masing, narasi singkat 120 detik, untuk menjelaskan materi permainan atau kegiatan yang akan diberikan dan yel-yel serta ice breaking yang diberikan pada tiap kelompok. Pembagian kelompok dalam kegiatan sain ini berdasarkan kelas siswa. Walhasil ada empat kelompok, yaitu kelompok A untuk kelas 1 dan 2 SD, kelompok B untuk siswa kelas 3 dan 4, kelas C untuk kelas 5 dan 6, serta kelompok D untuk siswa SMP. Secara keseluruhan ada sekitar 283 anak-anak dan 8 mentor yang “mengawal”. Ingin tahu kegiatan di UI tersebut, inilah foto-fotonya. Bagi sahabat yang telah tergabung di grup 1N3B di Facebook, anda bisa melihat lebih banyak lagi dokumentasi tersebut di sana. (more…)


Sekelumit Cerita dari Madobak

Ary, Manajer Kesehatan Tim 1N3B Edisi Mentawai

Ary, Manajer Kesehatan Tim 1N3B Edisi Mentawai

Yang berkisah kali ini Ary, sang manajer kesehatan yang nampak di foto berbaju merah muda. Ary akan bertutur dengan gaya bahasa sehari-hari yang ringan, lucu dan menyenangkan, khas Ary. Ia biasa menyebut dirinya dengan “gw” singkatan dari “gue”, bahasa anak muda Jakarta untuk menyebut dirinya sendiri. Bagaimana kisahnya? Silahkan menyimak ya.

***

Usianya baru 21 tahun, sangat belia bila dibandingkan dengan umur gw :) tapi di usia segitu Ibu Neseko (kalau gak salah liat yah nama nya hehe) sudah memiliki lima anak….mari kita berhitung saja secara matematika, bila anak tertua ibu itu saja sudah berusia sekitar 7 tahun berarti Ibu Neseko menikah pada usia 13 tahun usia yang sangat muda sekali untuk memasuki sebuah kehidupan rumah tangga.

Ibu Neseko dengan kelima anaknya adalah salah satu dari pasien kami di tim balai pengobatan dalam rangkaian acara kegiatan sosial bersama team 1N3B di desa Madobag di kepulauan Mentawai Sumatra Barat, 21-22 Mei 2009. Catatan,  di team 1N3B gw bukan dokter, juga bukan apoteker hehe :)  cuma sekadar membantu-bantu saja, membantu apa yang bisa gw bantu sesekali gw juga SKSDSN (Sok Kenal Sok Deket Sok Nasehatin) sama pasien hehe…:P mencoba untuk berbaur…
Kembali ke masalah Ibu Neseko, Pernikahan dini, banyak anak menjadi sebuah kewajaran di desa Madobak  ini sangat ironis ketika gw membayangkan apa yang tengah di lakukan anak-anak di daerah perkotaan (Jakarta misalnya) dengan anak-anak Madobak di usia 13 tahun atau di usia 21 tahun.
Usia 13 atau 21 tahun untuk sebagian besar orang Jakarta atau daerah perkotaan pada umumnya adalah usia dimana mereka sedang menikmati masa anak-anak dan remaja,  berkumpul dengan teman-teman (ngomongin masalah mode, gosip, dan sebagainya), sekolah, kuliah, jalan-jalan dll. Sedangkan di desa Madobak wanita dengan range usia tersebut sudah disibukkan dengan urusan keluarga, memasak, mengurus anak dan suami. Yang mengejutkan adalah banyak anak menjadi satu target bagi mereka karena untuk memenuhi target jumlah penduduk guna mempercepat proses pemekaran desa (gw blom sempet cross check dengan aparat setempat, baru dapet info dari ibu2 nya aja) emangnya perempuan itu mesin pencetak anak :( (( hhhhhhh…………. :( miris memang…. (more…)


Water Rocket Party for All

Undix aka Sri Sutyoko

by Sri Sutyoko aka Undix

Water rocket is one of the most exciting also daring tools to learn physics. The raw excitement that explode while the blasting water appear followed with lift-off, open a gateway to teach Newton’s Law of Gravity easier than using classical teaching in the classroom. This is the main message from water rocket experiment as a part of 1N3B program, “Bagi Buku – Bagi Ilmu – Bagi Anak Negeri, May 21 – 23, 2009, in Madobag Village, Siberut Island, Mentawai Islands, Indonesia.

Commence... Fire! Lift Off...

Commence... Fire! Lift Off...

Without writing F = m.a formula, I asked the student to learn Newton’s Law from a small water rocket competition. Divided into three groups, namely Nusa-Bangsa-Bahasa, I gave them only three chances to win the competition.

Set to launch and countdown begin.30.. 29.. 28.. 27 ... 1

Set to launch and countdown begin.30.. 29.. 28.. 27 ... 1

The winner is the group who recorded the longest flying time. Even the prize is priceless in Jakarta-my completed built-up water rocket that constructed from rubbish-the student still showed good fighting spirit to win.

Contrary to my fellow mentors at that event, I did not create a yell for them. I just asked the student to count natural number, from 30 down to zero. If the countdown classified as a yell, it might be the longest and mathematically yell that ever shouted since Pangrango.Com Community lighting up 1N3B Movement in 2005.

Student donated hand pump, launcher tube, and rocket to Vice Head of District Administration of Mentawai Islands.

Student donated hand pump, launcher tube, and rocket to Vice Head of District Administration of Mentawai Islands.

The winner of this small competition recorded more than six seconds flying, far and away from average three seconds. While the winner in another class brought the prize as private property, my student immediately donated the prize to their school as public property, so everybody can learn how to built and launch water rocket. (more…)


dr Anto dan Pengalamannya di Desa Madobak

Salah satu kegiatan kami di Mentawai adalah menyediakan pengobatan cuma-cuma dan penyuluhan kesehatan.  Untuk kegiatan ini, kami menurunkan satu tim kesehatan yang terdiri dari dua orang dokter, yaitu dr. Anto dan dr. Hendra didampingi manajer bidang kesehatan, Ary.  Catatan di bawah ini adalah tulisan dr. Anto. Selamat menyimak.

***

dr. Anto dan dr. Hendra

dr. Anto dan dr. Hendra

Kemarin selama satu minggu 19-25 mei saya dapat kesempatan pergi bersama sekelompok teman dari Jakarta ke desa Madobak,  Muara Siberut kepulauan Mentawai Sumatra Barat. Teman-teman dari Jakarta ingin membangun rumah baca, berbagi permainan sains, putar film Laskar Pelangi dan pengobatan dan penyuluhan untuk masyarakat di desa Madobak.

Tim Kesehatan di Atas Perahu Pong-Pong

Tim Kesehatan di Atas Perahu Pong-Pong

Proses perjalanan dimulai naik pesawat ke Padang, kemudian menuju pelabuhan Bungus dengan naik feri selama 10 jam sampai pulau Sipora. Dari pulau Sipora dilanjutkan dengan speed boat selama 2,5 jam sampai ke pulau Muara Siberut. Kemudian menuju Desa Madobak ditempuh perjalanan 4 jam dengan perahu pong-pong (perahu dari kayu besar yang dibelah dan dibentuk perahu dengan tenaga penggerak berupa mesin seperti pemotong rumput dengan baling-baling yang dimodifikasi sebesar telapak tangan dewasa). Perjalanan dengan perahu pong-pong selama empat jam melewati sungai yang berliku terbentuk dari aliran air dari lautan.

Persiapan Balai Pengobatan

Persiapan Balai Pengobatan

dr. Hendra Menyiapkan Obat-Obatan

dr. Hendra Menyiapkan Obat-Obatan

Sampai di desa Madobak tidak ada listrik dan sinyal. Sekolah yang ada SD dan SMP, untuk SMA anak-anak desa Madobak harus ke Muara Siberut. Fasilitas kesehatan terdapat Polindes, namun sudah ditumbuhi ilalang dan tidak terpakai lagi. Tenaga kesehatan terdapat satu perawat kesehatan. Satu tenaga bidan, dan beberapa kader posyandu.
Instalasi air bersih tidak ada. Air diambil dari sungai atau hujan. Jamban tidak ada di setiap rumah. Sebagian besar penduduk tidak memiliki jamban. Di gedung SD tempat menumpang sudah terdapat jamban namun tidak terlihat tanda perawatan yang memadai. Mandi dilakukan di sungai, mencuci sikat gigi disungai. BAB dilakukan bisa di kebun atau sungai kecil belakang rumah atau aliran sungai.

Suasana Kegiatan Balai Pengobatan 1N3B

Suasana Kegiatan Balai Pengobatan 1N3B

Sebagian besar orang tua tidak bisa berbahasa Indonesia atau tidak lancar. Anak yang bersekolah bisa mengerti bahasa Indonesia. Ruang kelas berupa bangunan permanen. Dengan kursi, meja dan papan tulis. Di ruang kepala sekolah sudah terdapat white board.

(more…)