Posts Tagged ‘Ngadulanggi’

Dan Paripurna lah Kegiatan Bagi Buku Bagi Ilmu Bagi Anak Negeri di Desa Ngadulanggi

Apa yang telah kami lakukan hanyalah sebagian kecil dari usaha yang diperlukan untuk usaha perbaikan kualitas pendidikan dan kesehatan bagi penduduk Desa Ngadulanggi dan sekitarnya. Kami mendorong elemen masyarakat lain yang memiliki visi kemanusiaan yang sama untuk dapat melanjutkan atau melengkapi hal-hal yang telah kami rintis di Desa Ngadulanggi. Kami terbuka untuk berbagi informasi dan bentuk-bentuk kerja sama lainnya yang sekiranya dapat mendukung terlaksananya program-program serupa di masa datang.

Atas terlaksananya kegiatan ini, kami bersyukur kepada Tuhan YME untuk segala rahmat-Nya dan dengan tulus kami menghaturkan terima kasih kepada Sahabat 1N3B, Kepala Desa Ngadulanggi, Bapak Camat Nggaha Oriangu, masyarakat desa Ngadulanggi, Pulu Panjang dan Mandas, serta seluruh pihak yang memberikan kontribusi demi keberhasilan kegiatan “Bagi Buku Bagi Anak Negeri 2010″. Bagi kami, menjadi bagian dari kegiatan ini adalah sebuah proses pembelajaran dan dalam proses tersebut tentu masih banyak ruang untuk perbaikan di masa yang akan datang. Atas segala kekurangan tersebut dari lubuk hati yang paling dalam, saya mewakili Komunitas 1N3B menghaturkan permohonan maaf.


Kegiatan Pengobatan Cuma-cuma pada Acara Bagi Buku Bagi Ilmu Bagi Anak Negeri di Desa Ngadulanggi Tahun 2010

Kegiatan penyuluhan tentang perilaku hidup bersih dan sehat serta pengobatan cuma-cuma dilaksanakan dalam 2 hari (29-30 Juli 2010) melibatkan 2 (dua) orang dokter dan 1 (satu) orang bidan yang menangani 461 penduduk yang terdiri dari 65 Balita, 97 anak-anak dan 299 dewasa dari Desa Ngadulanggi, Pulupanjang dan Mandas. Dari diagnosa awal, ditemukan bahwa penyakit yang dominan diderita oleh warga dewasa adalah infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) (20.82%), suspect malaria (19.16%) dan radang sendi (17,63%). Pada pasien anak-anak dan balita, infeksi saluran pernafasan mendominasi kasus yang ditemukan yaitu 42,51% pada anak-anak 6 – 12 tahun dan 62,44% pada balita. Tenaga medis kami juga menemukan bahwa berat badan rata-rata balita di desa-desa yang ditangani lebih ringan 75-85% dari rata-rata berat balita berdasar Standar Berat Anak Nasional yang ditetapkan Departemen Kesehatan.



Aktivitas Kegiatan Pendidikan Bagi Buku Ilmu Bagi Bagi Anak Negeri di Desa Ngadulanggi Tahun 2010

Melalui kegiatan pendirian Rumah Baca (Rumba) masyarakat, 1N3B telah menyalurkan sejumlah 2.308 eksemplar pustaka, yang terdiri dari buku, majalah dan LKS. Masyarakat setempat berperan dengan secara swadaya menyediakan ruangan dan rak buku dan sumber daya manusia yang telah diberikan pelatihan oleh 1N3B sebagai pengelola Rumba. Nama Rumba yang dipilih oleh masyarakat setempat adalah ”Woka Ngiapajaar,” yang berarti kebun atau lingkungan tempat belajar. Secara simbolis Rumba Woka Ngiapaajar diterima oleh Bapak Camat Nggaha Ori Angu, disaksikan Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, mewakili pihak Kabupaten Sumba Timur pada tanggal 29 Juli 2010. Rumba ini akan dikelola oleh tenaga pendidik SD Negeri Ngadulanggi dan dibuka bagi umum.

Aktivitas kegiatan pendidikan dilaksanakan dalam dua hari (29-30 Juli 2010). Pada hari pertama, sebanyak 388 murid-murid Sekolah Dasar dari 3 (tiga) desa, yaitu Ngadulanggi, Pulu Panjang dan Mandas mengikuti kegiatan yang meliputi lomba mewarnai, permainan sains dan pembagian alat sekolah (tas dan alat tulis). Pada hari kedua, sebanyak 100 anak dari SD Negeri Ngadulanggi mengikuti kegiatan permainan harta karun untuk sosialisasi Rumba, dongeng lingkungan hidup dan pembagian seragam dan kaus kaki. Acara hari pertama dan hari kedua ditutup dengan pemutaran film pendidikan yang dapat memberikan motivasi bagi anak-anak untuk tetap bersekolah di tengah berbagai keterbatasan dan tantangan.


Perjalanan dan Persiapan di Lapangan dalam rangka Kegiatan 1N3B di Desa Ngadulanggi pada Tahun 2010


LAPORAN KEGIATAN “BAGI BUKU – BAGI ILMU BAGI ANAK NEGERI 2010” DI SUMBA

cover-final

Sahabat 1N3B,

Ketika di pertengahan Maret 2010, Komunitas 1 Nusa 1 Bangsa 1 Bahasa 1 Bumi (1N3B) mulai menyampaikan kepada publik rencana untuk mengadakan acara “Bagi Buku, Bagi Ilmu, Bagi Anak Negeri” di Desa Ngadulanggi, Kecamatan Nggaha Oriangu, Kabupaten Sumba Timur, propinsi Nusa Tenggara Timur, tak henti-hentinya aliran dukungan baik secara moral, donasi maupun tenaga yang kami dapatkan dari para Sahabat 1N3B. Demikian, Laporan Kegiatan ini merupakan bentuk pertanggungjawaban kami atas kepercayaan yang telah diberikan oleh para donatur dan khalayak umum yang akan menjelaskan detail pelaksanaan kegiatan dan rincian penggunaan dana, dibandingkan dengan rencana awal yang tercantum dalam proposal kegiatan.

Hasil survei lapangan pada tanggal 19 Maret 2010, memang memperlihatkan bahwa Desa Ngadulanggi adalah sasaran ideal yang sesuai dengan semangat dasar gerakan 1N3B yaitu untuk bahwasanya pendidikan semestinya bebas sekat geografis, suku, agama, ras dan golongan sosial. Ketika pada akhirnya kami melaksanakan kegiatan tersebut pada tanggal 29-30 Juli 2010, kami juga menemukan bahwa semangat untuk terbebas dari berbagi sekat yang membatasi pengembangan potensi pribadi dan daerah telah dimiki oleh penduduk dan aparat pemerintahan setempat. Semangat ini membuat kegiatan-kegiatan yang direncanakan yaitu pendirian Rumah Baca, pendidikan bagi murid-murid Sekolah Dasar, penyuluhan dan pengobatan cuma-cuma serta pembangunan bak penampungan air hujan, dapat terlaksana dengan baik.

Ibaratnya memancing bersama, 1N3B tidak sekadar memberikan kail dan umpan, kami juga mengajak masyarakat setempat untuk membuat kail dan mencari umpannya. Begitu juga dalam mewujudkan kegiatan ini, kami mendorong masyarakat memanfaatkan potensi lokal, berpartisipasi dalam penyediaaan ruang dan rak untuk Rumah Baca dan menyediakan tenaga untuk bergotong royong membangun bak penampungan air hujan. Peran aktif ini disengaja agar tumbuh rasa memiliki dan kebersamaan dalam memelihara dan mengelola fasilitas-fasilitas yang dibangun untuk kesejahteraan penduduk desa.

Atas terlaksananya kegiatan ini, kami bersyukur kepada Tuhan YME dan dengan tulus kami menghaturkan terima kasih kepada Sahabat 1N3B, Camat Nggaha Oriangu, Bapak Umbu Maramba Miamang, Spt, Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Bapak Obed Hilungara, S.H., MSi , Kepala Desa Ngadulanggi Bapak Umbu Karipiwiruhi, masyarakat desa Ngadulanggi, Pulupanjang dan Mandas, serta seluruh pihak yang memberikan kontribusi untuk kegiatan “Bagi Buku Bagi Anak Negeri 2010″. Bagi kami, menjadi bagian dari kegiatan ini adalah sebuah proses pembelajaran dan dalam proses tersebut tentu masih banyak ruang untuk perbaikan di masa yang akan datang. Atas segala kekurangan tersebut dari lubuk hati yang paling dalam, saya mewakili Komunitas 1N3B menghaturkan permohonan maaf.

Salam 1N3B!
Atas nama Tim 1N3B untuk Ngadulanggi
Manajer Umum

Yoga Amalia

laporan_kegiatan_1n3b_2010_0-lf


..to the children of Indonesia..

By Yulia Absari aka Ijul, an employee in a multinational company, volunteer 1N3B. She lives in Jakarta.

ijul

My last social activity this month and it so happen that it falls on the week of my birthday.

ijul-iting

I almost couldn’t go cause until the end of June, I still haven’t submitted my leave & haven’t prepared for anything. Anyway, things went well and got the ticket on my hand. However, since I had other stuffs like LSC & KKS Melati, so the preparation for the story telling & origami was made 1 week before D-Day. Pretty worried that I couldn’t make it in time, but thankfully, everything went well as it planned, and the EXCITEMENT begin!!

We are leaving on the 28th by Batavia, with route JKT-KPG-WGP. Quite shaky, but the heck, nothing compares my madness when knowing a passenger across me was having his phone ON all the way from JKT-KPG !! (when his phone was accidentally ringing, I looked at him & asked him to turn it off, but do you wanna know what he said? He said, “It’s OK, I already reject the phone & always turn the phone on”. What the F*@$ !!!). Ugh, had I not realized it’s the beginning of my journey, I would punch him on the face. I couldn’t call the flight attendant as everybody’s were all ready for landing position. (more…)


Tanah Sumba nan Exotic

By:  Sita Rahmah, Chairman at Mutiara Bunga Bangsa Foundation, volunteer of 1N3B.

Wednesday, August 18, 2010

Waingapu, Ngadulanggi, Pulu Panjang, Goa, Waikabubak, Kodi, Tarung, Roteng Garo, Pero and, Tambolaka are the name of those beautiful places, I visited last July. The people, nature and cultures are unique and beautiful there. We rented a truck and rode for the destinations. The access road to reach Ngadulanggi village is not yet properly built. It is just a simple bumpy road, and too much uncomfortable, I must say. During the travel, we were jolting throughout in the truck, like being surrounded in the middle of Tsunami wave. The view to reach Ngadulanggi is awesome and beautiful like paradise. We went from one hill to another hill just like heading from one to another heaven of the world. To be in this hidden heaven in one corner of this universe is just like a dream. I went there to carry out some volunteer works, as a participant in 1N3B activities. We organized fun games for about 400 children. We donated some stuff to them, like school uniforms, food, school bags, stationeries, and also distributed medicines to around 700 people of Ngadulanggi and Pulu Panjang village. (more…)


Berbagi Cerita dan Cinta di Sumba : Ini, kita di Sumba tho?!!

susan1

Ini mimpi. Saya beberapa kali berucap demikian pada seorang kawan. Waktu masih berada di bangku kuliah dan mengambil mata kuliah MKI (Manusia dan Kebudayaan Indonesia) secara acak saya mendapat tugas presentasi makalah tentang budaya penguburan Sumba. Saya pontang panting mencari referensi karena saat itu internet belum segahar sekarang yang dengan mudah memberi kita berbagai ulasan tentang kata kata yang kita ketik di mesin pencari informasi. Kemudian sesudah menemukan data datanya saya hanya bisa membayangkan saja seperti apa Sumba, seperti apa kuburan yang dimaksud, seperti apa kepercayaan Marapu yang mereka anut, seperti apa mereka .. orang orang Sumba. Saya hanya bisa tertarik saja dan mengingat apa saja yang terjadi saat pemakaman dilakukan.

Sebelum berangkat, ibu korlap mendapat info akan adanya upacara pamakaman di desa sebelah sehingga kita bisa melihatnya juga jika mau. Saya berbinar binar dan makin semangat untuk berangkat. Saya berbinar meskipun saya belum tau tentang desa sebelah itu sejauh apa.

Tanggal 28 Juli pagi buta saya dan kawan kawan yang jumlahnya sekitar 17 orang itu bersama sama terbang ke Sumba dengan rute Jakarta-Kupang-Waingapu dan dilanjutkan dengan truk menuju Ngadulanggi. Dari balik jendala kecil disamping tempat kami duduk di atas pesawat mata ini sudah terkagum kagum dengan pemandangan daratan di Sumba yang terlihat dari udara. Pasir putih yang memisahkan laut hijau-biru dan pulaunya, daratan yang saling menggelembung membentuk bukit bukit berwarna cokelat dari udara membuat saya melupakan rasa takut untuk menengok ke bawah. Saya hanya bisa melihat sambil berdecak kagum tentang betapa kayanya negeriku yang mengandung ranah beranak pinak yang berbeda satu dengan yang lainnya dan tanah dibawah pesawat ini adalah contohnya. Jadi kenapa harus ribut mengurus paspor dan berburu tiket pergi ke negeri tetangga jika pulau pulau di negara kita saja belum sempat kita singgahi seluruhnya. Oh iya saya lupa, sebagian menganggap kalau pernah pergi ke Singapore atau ke Malaysia atau ke Vietnam dan lain lain itu lebih keren daripada ke Sumba, ke Rote, ke Kupang dan lain lain yang berbau Indonesia.

Sesampai di Waingapu kami disambut oleh Adipapa, Yubi dan Umbu Angga, koordinator di Waingapu dan Ngadulanggi. Juga Om CT dan Nikk yang sudah tiba dahulu di sana. Sebagai penyambutan, Dr Dani dokter di RS di Waingapu menyambut kami dengan makan siang bersama di Rumah sakit. Terima kasih dokter :)
Untuk memasuki Desa Ngadulanggi ternyata tidak muda. Kami membutuhkan 4-5 jam lamanya dari Waingapu. Kira kira pukul 6.30 malam kami mendengar suara keramaian dari alat musik gong dan kentongan yang bercampur dengan suara orang orang yang saling bersahutan sebagai tanda menyambut kami. Truk yang kami tumpangi tidak berhasil melewati sungai kecil saking banyaknya batu batu di sekitar sungai dan menyebabkan kami berjalan sendiri menuju desa.

“Kita akan tidur di ruang kelas SD Ngadulanggi, ingat!” Kata Tyty, kordinator lapangan yang tak henti hentinya bicara dari awal acara dimulai sampai akhir.

Tari-tarian selamat datang yang ditampilkan wanita wanita Ngadulanggi makin membuat suasana malam makin ramai, mereka mempersilahkan kami duduk di bangku-bangku sederhana di bawah tenda terpal yang sudah mereka siapkan untuk kami. Tak lupa kehadiran pinang yang mereka suguhkan sebagai sambutan. “Ayo, silahkan dimakan. ini adat kami untuk menyambut tamu.” Seloroh seorang wanita dengan logat Sumba yang sedari tadi mengikuti saya, nantinya saya baru tahu bahwa itu adalah istri kepala sekolah SD Ngadulanggi. Sayapun sempat mencicipi. Rasanya sepet. Tapi tetap saya makan karena rasanya aneh dan tidak bisa diungkapkan. Pinang di adat Sumba adalah jamuan kebesaran tuan rumah untuk tamunya.

Pendudukpun bergotong royong membantu kami mengangkuti berkardus kardus barang kiriman yang mengendap di rumah Kepala Desa untuk kami olah dan tata sesuai rencana.  Nantinya saya makin mantab mengatakan kalau desa ini memang pantas menerima sumbangan dari 1n3b karena sesuai dengan misi komunitas ini “pendidikan semestinya bebas sekat geografis, suku, agama, ras, dan golongan sosial”. Desa ini memang sulit dijangkau
(more…)


Berbagi Cerita dan Cinta di Sumba: Persiapan yang Melelahkan

Sahabat 1N3B,

Tulisan ini adalah awal dari beberapa tulisan anggota tim lapangan 1N3B yang melakukan perjalanan ke Sumba Timur pada akhir Juli 2010 yang lalu.  Bercerita tentang suka duka, Susan* sang manajer Rumba ketika melakukan persiapan untuk rumah baca Woka Ngiapaajar selama beberapa bulan di Jakarta.  Salah satu kesulitannya adalah ketika melakukan konsolidasi dengan anggota tim Rumba. Susan pernah mengalami tak seorang pun anggota tim-nya muncul karena kesibukan masing-masing. Dalam komunitas seperti 1N3B, hal ini bisa saja terjadi. Oleh karena sifatnya volunteering, seorang volunteer dapat sewaktu-waktu mengundurkan diri memilih menjadi anggota pasif dengan berbagai alasan tanpa bisa dicegah. Teman-teman yang bertahan dari awal sampai akhir kegiatan biasanya bertahan karena komitmen yang kuat dan tentu saja karena keyakinan masing-masing. Selamat menikmati rawian mbak Susan yang arek Suroboyo ini.

Salam 1N3B!

-Yoga-

***

susan

Mengiyakan menjadi kordinator rumah baca untuk acara 1n3b kali ini adalah jebakan yang mungkin telat untuk saya tampik. Bagaimana tidak? Ketika memulainya saya merasa sangat tidak tau apa apa tentang bagaimana mengelola rumba kecuali short course dari Mbak Titi Ungu pemegang kursi kepemimpinan Rumba dari tahun ke tahun yang komunitas 1n3b lakukan saat persiapan kegiatan yang sama tahun lalu. Tahun lalu saya memang membantu persiapan tim Rumba sebagai ajang saya yang melenceng dari profesi saya saat itu, sekretaris yang tak pernah kerja dan melayani ketua, itupun hanya menjadi penyampul buku saja. hihihi.. Jebakan bermula dari sini. Akhirnya dengan entengnya mbak Yoga ketua tahun ini memberikan mandat itu pada saya dan saya seperti kena guna guna, langsung mengiyakan! Lalu mulailah saya bergerelya mencari cari anggota dari berbagai kalangan.

(more…)


Pin (SOLD OUT)

pin